Thursday, May 28, 2015

Part #1 : Nama Yang Asing di Telinga


Pada saat aku menulis notes ini, aku ada di kantor dalam keadaan sakit demam, badanku menggigil, tanganku sangat dingin. Hingga rekan kerjaku menyarankan aku untuk beristirahat. Namun apa daya sudah kubilang aku ini pintar. Robot pintar lebih tepatnya karena semua kreativitasku, kecerdasanku akan didayagunakan kepada pemerintah, hingga pekerjaan tidak bisa ditunda tunda. Disebut workaholic oleh orang lain meski dalam kenyataannya semua adalah buah keterpaksaan.

Aku menepi ke jendela untuk menghangatkan badan. Jendela di belakang meja kerjaku itu tepat menghadap jalan. Lantai 13 tempatku bekerja memungkinkan aku menatap lalu lintas ibukota. Lapangan Banteng, Istiqlal, Gereja Katedral dan gedung gedung pencakar langit lain terlihat jelas dari tempatku duduk sekarang. Kadang kadang kalau cuaca cerah tidak berkabut, gugusan pulau Seribu juga dapat dilihat meski samar samar.

Ya, samar samar.

Seperti halnya kudengar kata kata mas Budi kepadaku. setahun lalu.

"Dopamin di otakmu tidak seimbang."

Dopamin? Baru kali ini aku mendengar istilah itu.

"Salah satu sel kimia dalam otak", sambung Mas Budi melihatku mengernyitkan dahi. Tanda tak mengerti.

"Hal itu menyebabkan gangguan jiwa psikotik dengan ciri hilangnya perasaan afektif atau respons emosional.

Psikotik? Afektif?

"Gangguan semacam ini menyebabkan kamu sering mengalami halusinasi dan delusi. Kemungkinan terjadi karena penurunan kadar transtiretin atau pre-albumin yang merupakan pengusung hormon tiroksin, yang menyebabkan permasalahan pada zalir serebrospinal.

Ya, Tuhan. Aku benci mendengar istilah istilah yang aku tidak ketahui.

"Jadi, sebenarnya aku tuh sakit apa mas?"

"Saya tidak yakin ini sebuah penyakit karena secara fisik tidak akan membunuhmu. Tapi..."

"Tapi apa mas?"

"Dapat membunuhmu secara mental, secara kepribadian. Menurut penelitian Asosiasi Psikiater Amerika ada 1% penduduk dunia yang menderita penyakit ini."

Tidak akan membunuhku secara fisik tapi secara mental. Aku masih tidak mengerti. Ah, tapi setidaknya aku mempunyai teman. 1 persen dari 6 milyar masih 60 juta kan. Aku mencoba berpikir positif.

"Lalu apa nama penyakit yang ada di otakku ini," aku memberanikan diri bertanya.

"Schizophrenia."

Aku..aku yakin pernah mendengar nama itu. Aku yakin sekali. Tapi dimana?

*********************************************************************************

Claudia masih tertidur lelap di sofa.Acara penggalangan dana tadi malam benar benar menguras habis staminanya. Acara amal yang dia rencanakan berjalan lancar. Performance of art dari sesama mahasiswa menjadi andalan dan satu satunya yang ditunggu tunggu para tamu, selain tujuan utama yaitu penggalangan dana itu sendiri.

Aku memandangi wajahnya yang polos. Kata Heru sih wanita itu paling cantik ketika dia tertidur. Katanya, Tuhan menunjukkan pada dunia wajah asli seseorang dalam keadaan yang tidak dibuat buat. Seorang artis yang pandai berakting dan memainkan mimik wajah sekalipun akan menunjukkan ekspresinya yang paling wajar dan jujur ketika dia tidur. Ah, aku jadi ingat ayah dan ibu. Ayah yang bertemperamen agak keras. Aku curigai dia adalah keturunan langsung dari Hitler karena sikapnya yang tidak kenal kompromi terhadap kesalahan anaknya. Pernah aku salah mengerjakan soal matematika, aku langsung dimarahinya.

"Apa saja yang kau pelajari di sekolah? Mengerjakan soal seperti itu saja kau tak bisa!".

Suaranya menggelegar ke seluruh rumah, ibuku yang sedang memasak menghentikan kegiatannya mengiris kacang panjang. Dan aku memilih diam membisu. Diam mengakui kesalahan dan tidak membantah kata kata ayah. Karena aku tahu seberapapun kesalahanku ayah akan marah selama 10 menit. Aku pasti akan dimarahi selama 1 menit kemudian ayah akan memberitahu kesalahanku selama 9 menit. Dan rutinitasnya sehabis marah adalah mengusap rambutku dan menanyakan apa aku sudah tahu kesalahanku. Kemudian beberapa menit berikutnya dia membantuku mengerjakan PR Matematikaku dan setelah aku bisa dia akan menepuk pundakku dan semua kembali seperti biasa, seperti keadaan dimana dia belum marah.

Sekali aku pernah melihat dia tidur di sofa sehabis kerja dan ekspresinya benar benar membuat aku berkaca-kaca. Betapa badannya yang dulu kekar dan kuat kini telah termakan usia. Betapa rambut-rambut putih yang telah menghias kepalanya. Betapa ekspresinya sebagai mandor bangunan berganti menjadi ekspresi keikhlasan berkorban bagi keluarga, seharian membanting tulang tanpa dia pernah mengeluh. Tuhan Maha Adil. Orang yang rela melakukan apa saja agar anaknya kenyang. Orang yang rajin memarahiku semata mata karena kasih sayangnya kepadaku. Orang ini, memang jempolan.

Kalau ibu. Tidak ada lagi yang bisa kutulis mengenai ibu. Cuman satu kalimat, waktu ditiupkan ruhku aku akan dijanjikan akan ditemani seorang malaikat bernama ibu. Titik.

Ekspresi ayah dan ibu yang tulus terngiang ngiang dipikiranku. Aku coba membandingkannya dengan ekspresi Claudia sekarang. Sungguh, Lautan Mediterania sekalipun tidak akan mengalahkan teduhnya wajahnya. Senyumnya, lesung pipitnya, ah waktu menjadi berjalan begitu pelan. Siapa yang menekan tombol slow motion hah? Sebelum aku sempat mengetahui siapa yang menekan tombol itu, Claudia terbangun. Dia sepertinya menyadari tengah dipandangi sewaktu tertidur.

"Eh, kamu.. Ngapain ngeliatin aku.. Gag boleh..gag boleh.." tangannya meraih bantal dan menutupi wajahnya. Duh, imutnya.

"Lucu aja ngeliat cewek tidur."

"Kenapa? Aku jadi lebih cantik ya..hahaha."

"Yee, ge er.. Aku bilang lucu, jadi pengen melihara. Hahaha"

"Ihh, kamu jahat. Bilang aja kamu naksir aku kalo tidur, ya kan."

Dhuar. Zeus mengirim petirnya langsung di otakku.

"Hahaha, bisa aja kamu. Iyah, tapi waktu tidur aja, sekarang kan udah bangun. Hahaha."

"Hahahaha, ya udah aku nggak mau tidur lagi ah."

"Hahaha, sok atuh ini masih jam 4 pagi kalau betah silahkan aja."

Claudia cuma tersenyum. Dia seperti memikirkan sesuatu. Sejenak kami cuma terdiam. Hampir sepuluh menit berlalu tanpa ada suara. Bingung mungkin apa yang mau diobrolin. Akhirnya keheningan itu dipecah oleh alarm hapeku.

"Shit.. Berisik aja nih, udah bangun padahal."

"Hahaha, bilangin dong alarmnya jangan berisik."

"Kamu aja yang bilang, aku mah bukan orang aneh yang bisa ngobrol sama hape."

"Hahaha, bisa aja.. Eh kamu ntar jam 7 ada acara nggak?'

"Nggak ada sih. Kenapa, kamu ngajakin ngedate hahaha"

"Iya ngedate. Ngedatengin kuburan. Hahaha. Anterin aku ya ntar ke tempat Prisa."

"Iya deh mau ngapain emang?"

"Dia janji mau minjemin aku DVD film. Tapi aku disuruh kesana. Dia lagi sibuk bantuin usaha kue katanya."

"Film apaan?"

"A Beautiful Mind."

"Film apaan tuh?"

"Tentang orang yang berjuang melawan sebuah penyakit."

"Penyakit apa? Panu? Kadas?"

"Hehehe, bukan. Penyakit schizophrenia."

"Sezo..pernia? Sezo apa sih susah banget"

"Schizophrenia. Beuh susah bener ngomong sama manusia purba."

Aku cuma tersenyum.

Dan kami kembali terdiam. Sampai pagi.

*********************************************

Tuesday, February 24, 2015

Tentang Selingkuh


Barusan ada temen curhat dia diselingkuhin sama pasangannya yang udah jalan 3 tahun. Terus dia mengajukan pertanyaan "Kalau Tuhan udah menakdirkan kita mempunyai pasangan masing-masing, trus kenapa masih ada yg namanya perselingkuhan?"

Pertanyaan itu terus berputar putar di kepala, dan karena saya ga bisa langsung menjawabnya tadi, saya janji akan mencoba menjawab lewat whatsapp, terus saya kepikiran masukin Facebook sekalian siapa tahu bermanfaat bagi teman teman.

"Kalau Tuhan udah menakdirkan kita mempunyai pasangan masing-masing, trus kenapa masih ada yg namanya perselingkuhan?". Karena yang dicari orang orang itu, (orang yang selingkah selingkuh) adalah kesempurnaan.. More and more. Selingkuhnya mereka menandakan ketidakmampuan mereka menerima kekurangan pasangannya dan mengaktualisasikannya dengan cara yang salah.

Mungkin mereka tidak tahu, kalo masing masing dari kita punya kekurangan, yang dapat ditutupi oleh pasangannya. Ibaratnya, aku punya satu sayap dan kamu punya satu juga, biar bisa terbang, kita mesti berpelukan, menyatukan hati dan pikiran, membuang segala egoisme pribadi, dan berhenti mencari cari kekurangan.. Jadi akan menjadi sepasang sayap yang mampu terbang. Ribut ribut kecil, beda pendapat itu biasa, tapi jangan sampai melepaskan pelukan itu sebelum sampai tujuan, entah itu polaris, firdaus atau tujuan sederhana tentang menemukan arti cinta. Jangan sampai di ujung perjalanan kita mengutamakan hal lain di atas cinta, sehingga ketika tangan kita sudah hampir menggapai cakrawala, kita terjerembab, dan jatuh berdebum ke bumi. Sakit. Sakit sekali.

Sesungguhnya tidak ada hal yang lebih baik daripada menerima kekurangan pasangan, sebagai ujian dari Maha Cinta kepada kita. Dan tidak ada hal yang lebih tinggi dan mulia dibandingkan cinta. Kalau ada, sebutkan! Karena dasar segala penciptaan dan kehidupan di jagad raya adalah cinta. Tuhan mencintai kita. Walau hamba-Nya sering berselingkuh.

So, buat teman teman (termasuk teman saya yang tadi nanya), yang udah ya udah, ikhlaskan saja, wanita/lelaki tidak cuma dia, better kamu tau dia sekarang daripada setelah kalian menikah nanti. Saya belajar banyak dari seseorang bahwa hal yang dulu pernah kamu tangisi, suatu saat nanti kamu akan mensyukurinya. Biarkan waktu yang menjawabnya. Oya, cari kesibukan, bantu anak-anak yang di kolong jembatan, yang ketika kita bersamanya kita akan merasa bersyukur, bantu orang orang tua, berikan perhatian lebih pada hal yang selama ini ditinggalin.Paling penting, dekatin diri ke Allah S.W.T, curhatlah pada-Nya sampai berderai air mata, sampai akhirnya kamu sudah lelah menangis dan mulai bangkit.

Semoga Bermanfaat

Friday, February 20, 2015

Sebuah Catatan Untuk Kekasihku Nanti

Kamu
Yang entah siapa, dimana, dan sedang melakukan apa

Hal yang perlu kamu tahu, sampai detik ini, aku masih mencarimu
Aku masih membolak balik halaman buku, berharap kutemukan petunjuk tentangmu disitu
Aku masih memutar-mutar knop frekuensi radioku, berharap kudengar penyiar menyebutkan namamu
Aku masih menyusuri taman-taman kota yang membisu, mencari bangku kosong untuk termangu, berharap kau ada disitu, dan mengizinkan aku duduk disampingmu
Aku masih memacu sepeda motorku, menyusuri jalan jalan berdebu, berharap kumelihat jejakmu diantara hingar bingar dan klakson yang saling menderu

Aku terus bertanya, dimana Tuhan menyembunyikanmu?

Kamu
Yang sudah atau belum pernah namanya aku tahu

Mungkin tanpa sadar kita pernah saling berpapasan di jalan
Mungkin aku pernah menatapmu di tempat tertentu atau kau pernah melihatku menunggu sesuatu
Bahkan mungkin aku ternyata sudah mengenalmu!
Aku mungkin sudah tahu segala tentangmu
Aku mungkin pernah berjalan bersamamu
Atau, aku mungkin orang yang akan singgah dan berlabuh di hatimu?

Sekali lagi itu hanya kemungkinan yang bahkan tidak ada satupun makhluk hidup yang benar benar tahu

Kamu
Yang wajahnya kuharap hadir barang sebentar di setiap mimpiku

Aku sering mereka reka seperti apa dirimu
Kadang aku akan tersenyum senyum sendiri membayangkan kita bertemu
Oiya, kamu tidak perlu takut tentang itu
Percayalah, demi Dia yang menciptakan kita berdua, aku tidak pernah mengharap kesempurnaan
Karena aku pun tak sempurna
Lalu mungkin aku akan bertanya
Seperti apa hobimu? Seperti apa orangtuamu? Berapa saudara kandungmu? Apakah kau suka membaca? Apakah kau paham kalkulus matematika? Apakah kau mengerti statistika?

Kamu
Yang akan tetap kucari dimanapun hadirnya dirimu

Sebelum bertamu kamu aku sudah dipertemukan dengan orang orang baik, orang orang hebat, bahkan mungkin realitanya mereka lebih hebat darimu, mereka lebih cantik darimu, mereka lebih baik darimu, tentunya dalam beberapa hal
Tapi sayangnya mereka bukan orang yang tepat untukku
Tapi mungkin merekalah orang yang membentuk aku yang sekarang
Tapi, tidak untuk mengabulkan semua permintaanmu
Atau untuk membenarkan semua perkataanmu
Hanya aku, insya allah akan ada untukmu
Dalam sukamu, dalam dukamu
Menyembuhkan lukamu, meringankan sakitmu, mengobati perihmu
Menghentikan deras aliran air matamu dan melengkungkan kembali senyum mu

Kamu
Aku pasti akan menemukan cara bertemu denganmu
Tunggu aku

(Djuanda Satu, 20 Februari 2015)

Tuesday, August 19, 2014

Kekuatan Tanpa Kekerasan



Mungkin rekan rekan mengira, foto diatas adalah foto Amitabh Bachan atau artis India lainnya hehe..

Bukan, foto di atas adalah foto Dr. Arun Gandhi.

Dr. Arun Gandhi adalah cucu Mahatma Gandhi dan pendiri Lembaga M.K.Gandhi
untuk Tanpa-Kekerasan.

Pada tanggal 9 Juni ia memberikan ceramah di Universitas Puerto Rico dan bercerita bagaimana memberikan contoh tanpa-kekerasan yang dapat diterapkan di sebuah keluarga.

Waktu itu saya masih berusia 16 tahun dan tinggal bersama orang tua di sebuah lembaga yang didirikan oleh kakek saya, di tengah-tengah kebun tebu, 18 mil di luar kota Durban, Afrika Selatan. Kami tinggal jauh dipedalaman dan tidak memiliki tetangga. Tak heran bila saya dan dua saudara perempuan saya sangat senang bila ada kesempatan pergi ke kota untuk mengunjungi teman atau menonton bioskop.

Suatu hari, ayah meminta saya untuk mengantarkan beliau ke kota untuk menghadiri konferensi sehari penuh. Dan, saya sangat gembira dengan kesempatan itu. Tahu bahwa saya akan pergi ke kota, ibu memberikan daftar belanjaan yang ia perlukan. Selain itu, ayah juga meminta saya untuk mengerjakan beberapa pekerjaan yang lama tertunda, seperti memperbaiki mobil di bengkel.

Pagi itu, setiba di tempat konferensi, ayah berkata, "Ayah tunggu kau disini jam 5 sore. Lalu kita akan pulang ke rumah bersama-sama." Segera saja saya menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang diberikan oleh ayah saya.

Kemudian, saya pergi ke bioskop. Wah, saya benar-benar terpikat dengan dua permainan John Wayne sehingga lupa akan waktu. Begitu melihat jam menunjukkan pukul 17:30, langsung saya berlari menunju bengkel mobil dan terburu-buru menjemput ayah yang sudah menunggu saya. Saat itu sudah hampir pukul 18:00.

Dengan gelisah ayah menanyai saya, "Kenapa kau terlambat?" Saya sangat malu untuk mengakui bahwa saya menonton film John Wayne sehingga saya menjawab, "Tadi, mobilnya belum siap sehingga saya harus menunggu. "Padahal, ternyata tanpa sepengetahuan saya, ayah telah menelepon bengkel mobil itu. Dan, kini ayah tahu kalau saya berbohong. Lalu ayah berkata, "Ada sesuatu yang salah dalam membesarkan kau sehingga kau tidak memiliki keberanian untuk menceritakan kebenaran pada ayah. Untuk menghukum kesalahan ayah ini, ayah akan pulang ke rumah dengan berjalan kaki sepanjang 18 mil dan memikirkannya baik-baik."

Lalu, ayah dengan tetap mengenakan pakaian dan sepatunya, ayah mulai berjalan kaki pulang ke rumah. Padahal hari sudah gelap, sedangkan jalanan sama sekali tidak rata. Saya tidak bisa meninggalkan ayah, makaselama lima setengah jam, saya mengendarai mobil pelan-pelan di belakang beliau, melihat penderitaan yang dialami oleh ayah hanya karena kebohongan yang bodoh yang saya lakukan.

Sejak itu saya tidak pernah akan berbohong lagi. Seringkali saya berpikir mengenai episode ini dan merasa heran. Seandainya ayah menghukum saya sebagaimana kita menghukum anak-anak kita maka apakah saya akan mendapatkan sebuah pelajaran mengenai tanpa-kekerasan? Saya kira tidak. Saya akan menderita atas hukuman itu dan melakukan hal yang sama lagi. Tetapi, hanya dengan satu tindakan tanpa-kekerasan yang sangat luar biasa, sehingga saya merasa kejadian itu baru saja terjadi kemarin.

Itulah kekuatan tanpa-kekerasan.

Sumber: Disadur dari 'The Power Of Nonviolence' oleh Dr. Arun Gandhi

Monday, April 28, 2014

Mensyukuri Pekerjaan



Banyak sekali orang yang mengeluhkan tentang pekerjaannya. Alasannya pun beragam macam. Ada yang soal gaji rendah. Teman yang tidak bersahabat. Atasan yang pilih kasih. Karir yang tidak naik-naik. Dan seribu satu alasan lainnya. Makanya, tidak heran jika setiap pagi rasanya berat sekali untuk berangkat ke kantor. Setelah tiba di kantor juga tidak bersungguh-sungguh mencurahkan seluruh kemampuan. Datang kesiangan, pulang kegesitan. Seakan-akan kita ini tidak membutuhkan pekerjaan itu. Sekarang, coba bayangkan; bagaimana seandainya besok pagi kita kehilangan pekerjaan itu? Apakah hidup Anda akan tetap baik-baik saja? Hmmmh, barangkali ini adalah saat yang tepat untuk kembali mensyukuri pekerjaan yang saat ini kita miliki. Sudahkah Anda mensyukuri pekerjaan pagi ini?

Kehidupan kerja kita tidak selamanya menyenangkan. Kadang Anda dimarahi pelanggan. Kadang diomeli atasan. Kadang dijegal oleh teman. Dan masih banyak situasi sulit lainnya yang bisa menimbulkan kekecewaan. Kita sering keliru melampiaskan kekesalan dengan membenci pekerjaan. Padahal, semakin benci Anda pada pekerjaan, semakin memburuklah keadaannya. Semakin memburuk keadaannya, semakin jauhlah Anda dari rasa syukurnya. Semakin jauh dari rasa syukur? Semakin benci Anda pada pekerjaan. Dan terjebaklah Anda dalam kegelisahan tanpa ujung. Maka, tidak ada pilihan lain selain menysukuri pekerjaan yang kita miliki. Karena rasa syukur, membimbing kita untuk menemukan makna terdalam dari pekerjaan. Memang mudah untuk dikatakan, tapi bersyukur itu sungguh tidak gampang untuk dilakukan. Kita butuh pemahaman yang tepat tentang makna syukur itu bagi hidup kita. 

 
1. Rasa syukur menentukan kebahagiaan.
Rasa syukur kepada pekerjaan adalah obat yang paling mujarab untuk menyembuhkan setiap kekecewaan. Seberat apapun beban pekerjaan yang Anda hadapi, pasti akan terasa ringan jika Anda memiliki rasa syukur yang lebih besar dari beban itu. Sebaliknya, seenak apapun suasana dan imbalan yang dapatkan dari pekerjaan Anda; maka Anda akan tetap mengeluhkannya jika rasa syukur Anda atas semua kenikmatan kerja itu terlalu kecil untuk menghidupkan lentera nikmat dalam hati Anda. Makanya, banyak orang dengan kedudukan dan imbalan tinggi yang masih mengeluhkan pekerjaannya. Dan banyak orang yang pekerjaannya bejibun namun tetap gembira meski bayarannya ’tidak seberapa’. Keluhan bukanlah monopoli orang-orang berkedudukan rendah. Kegembiraan juga bukan monopoli mereka yang jabatannya tinggi. Malah kita sering menyaksikan hal yang sebaliknya. Jika kita tidak kunjung bahagia dengan kehidupan kerja, mungkin kita perlu bersyukur lebih banyak lagi. Mengapa? Karena rasa syukur pada pekerjaan sangat menentukan apakah kita bahagia dengan pekerjaan itu atau tidak.

2. Rasa syukur memberi ketabahan.
Jika boleh memilih, apakah Anda lebih menyukai pekerjaan yang berat secara fisik, atau berat tanggungjawabnya? Normalnya, orang-orang berpendidikan tinggi tidak menyukai pekerjaan fisik yang berat. Meski tidak terlalu suka pada tanggungjawab yang berat, tetapi itu adalah pilihan terbaiknya. Pekerjaan fisik itu melelahkan dan imbalannya rendah. Sedangkan tanggungjawab besar pada pekerjaan non fisik diimbangi dengan ruang kerja yang nyaman nyaris tanpa keringat, pakaian perlente, dan tentunya; bayaran yang jauh lebih tinggi. Maka, kemungkinan besar; Anda akan memilih tangggungjawab besar daripada kerja fisik yang berat. Normal. Tapi, mengapa banyak orang yang memegang tanggunjawab besar justru sering ingin berhenti, atau lari ke tempat lain hanya karena merasa beban yang harus kita pikul terasa sangat berat? Mengapa banyak pegawai biasa-biasa saja yang justru lebih kuat dan lebih tabah? Ternyata orang-orang biasa itu lebih banyak bersyukur daripada kita. Dengan rasa syukur itu mereka membangun kekuatannya. Karena rasa syukur memberi kita ketabahan.

3. Rasa syukur melahirkan keikhlasan.
Jangan salah kaprah. Ikhlas itu tidak sama artinya dengan tidak dibayar. Kita semua berhak untuk mendapatkan bayaran yang sepadan atas pekerjaan atau kontribusi yang kita berikan. Ikhlas juga bukan berarti menerima saja perlakukan tidak senonoh orang lain. Ikhlas itu berkaitan dengan sikap mental ketika kita menerima penugasan atau kondisi-kondisi tertentu yang belum tentu sesuai dengan keinginan kita. Ini bisa berkaitan dengan jenis pekerjaan, lingkungan kerja, atau orang-orang yang bekerja dengan kita. Orang ikhlas itu jarang mengeluh. Tidak ada yang bisa kita dapatkan dari keluhan pada pekerjaan. Justru dengan keluhan itu hati kita semakin lelah. Produktivitas kita semakin rendah. Dan performance appraisal kita semakin payah. Maka marilah kita belajar untuk ikhlas menerima penugasan atau tuntutan kerja. Marilah belajar ikhlas pada lingkungan kerja dan orang-orang yang bekerja bersama kita. Lalu kita alokasikan energy yang biasa kita gunakan untuk mengeluh itu menjadi daya dorong bagi pencapaian dan prestasi tinggi kita.  Dan untuk bisa ikhlas, kita butuh rasa syukur. Mengapa? Karena keikhlasan dilahirkan dari rasa syukur atas setiap anugerah yang kita terima melalui pekerjaan yang kita dapatkan.

4. Rasa syukur mendorong untuk berprestasi.
Bayangkan Anda adalah orang yang memiliki ketiga indikator ini; bahagia, tabah, dan ikhlas. Apakah dengan ketiga indikator itu Anda bisa mencapai prestasi tertinggi di tempat kerja? Yes, tanpa keraguan sedikitpun. Mengapa? Orang-orang yang bahagia bekerja tanpa beban sehingga semua energy yang dimilikinya didedikasikan tanpa gangguan. Mereka yang tabah tidak mudah menyerah saat berhadapan dengan tugas-tugas sulit, melelahkan dan menantang. Sedangkan keikhlasan yang dimilikinya membuat mereka bersedia melakukan tugasnya dengan sepenuh hati sehingga tidak ada kesempatan, peluang, energy maupun dedikasi yang disia-siakan. Maka wajar jika orang yang bahagia, tabah dan ikhlas itu bisa melampaui kinerja kebanyakan orang. Dan kita sudah membahas dimuka bahwa, kebahagiaan ditempat kerja, ketabahan dalam menjalani pekerjaan, dan keikhlasan menerima keadaan dihasilkan dari rasa syukur kepada pekerjaan. Maka nyata sekali jika rasa syukur itu mendorong kita untuk berprestasi tinggi. Maka bersyukurlah atas pekerjaan Anda, karena dengan rasa syukur itu Anda bisa mengukir prestasi yang lebih tinggi lagi.

5. Rasa syukur memberi lebih banyak nikmat. 
Guru kehidupan saya mengatakan jika Tuhan sangat menyukai orang-orang yang bersyukur sehingga Dia tidak segan-segan untuk menambah kenikmatan bagi mereka yang senang bersyukur. Boleh saja jika Anda mengira hal itu hanya berlaku untuk aspek-aspek spiritual yang langsung berhubungan dengan Tuhan. Tapi, coba bayangkan situasi ini. Anda mempunyai 2  anak buah. Yang pertama adalah si jago komplain, tukang mengeluh, dan tidak pernah puas atas apa yang Anda berikan kepadanya. Yang satu lagi adalah orang yang tahu berterimakasih, lalu membalas kebaikan Anda kepadanya dengan kesungguhan dalam bekerja, memberikan yang terbaik dari dirinya sehingga prestasinya selalu memuaskan Anda. Saya tidak perlu bertanya orang yang mana yang menjadi kesayangan Anda. Saya juga tidak perlu bertanya kepada siapa Anda akan memberi lebih banyak lagi. Sudah jelas sekali jika Tuhan menyukai orang-orang yang bersyukur. Atasan atau pemilik perusahaan tempat kita bekerja juga demikian. Maka rasa syukur kita kepada pekerjaan, benar-benar memberi kita lebih banyak lagi. Mungkin penghasilan. Mungkin kesempatan. Mungkin kepercayaan. Atau mungkin, hal-hal lain yang tidak pernah kita bayangkan.

Pekerjaan merupakan salah satu anugerah terbesar dalam hidup. Dengan pekerjaan, bukan saja kita mendapatkan nafkah untuk memenuhi kebutuhan fisik belaka. Dengan pekerjaan, kita bisa mendapatkan ketentraman jiwa dan ketenangan hati. Pekerjaan juga memberi kita kebanggaan dihadapan orang lain. Bisa jadi pekerjaan kita tidak gampang untuk dijalani. Bisa jadi juga pekerjaan kita tidak selalu menyenangkan. Mungkin pekerjaan kita belum menghasilkan imbalan yang tinggi. Tapi percayalah, memiliki pekerjaan itu jauh lebih baik daripada kondisi sebaliknya. Maka bagaimanapun juga, pekerjaan yang hari ini kita miliki, sangat layak untuk kita syukuri.

(dari berbagai sumber)

Monday, February 3, 2014

Tidak Enak Menjadi Minoritas


Pagi ini saya masuk kerja (lagi) setelah hari Kamis kena K.O. kehujanan dan demam yang membuat kepala seperti dipakaikan helm 10 kilogram. Entah kenapa hari ini, saya masih pusing. Mungkin efek dari perjalanan kereta api 9 jam nonstop sampai jam 12 malam tadi plus sampai stasiun Senen kehujanan dan saya tidak bisa tidur sampai pagi.

Sesampainya saya di kantor saya menaruh oleh-oleh pulang kampung berupa bakpia dan wingko babat di tempat rekan-rekan biasa menaruh oleh-oleh. Beberapa menit kemudian rekan saya membawa oleh-oleh 'benda yang paling saya benci', durian.

Ya, saya sangat benci dengan benda busuk satu itu. Saking bencinya saya tidak pernah tidak pusing ketika mencium baunya. Celakanya hari ini kondisi tubuh saya sedang menurun dan rasanya benar-benar membikin mual, seakan mau muntah.

Itulah tidak enaknya menjadi minoritas. Dalam prinsip demokrasi, suara terbanyak adalah yang berkuasa, ok saya paham. Tapi sayangnya dalam prinsip demokrasi, kebebasan individu juga mendapatkan tempat yang tinggi. Dalam hal ini kebebasan rekan-rekan saya untuk menyantap durian yang berbau itu seharusnya memperhatikan kebebasan saya untuk menghirup udara segar tanpa ada bau sesuatu yang tidak saya sukai. Suka atau tidak suka begitulah prinsip demokrasi. Namun, hal seperti itu sepertinya hanya utopia. Tidak hanya terjadi di lingkungan pekerjaan, namun ketidakbecusan penerapan demokrasi sebenarnya terjadi juga di masyarakat yang lebih luas. Ya, karena masyarakat luas merupakan pengembangan dari prototipe yang lebih sempit.

Ya itu menjadi sebuah ironi dalam perkembangan demokrasi, minoritas tetap minoritas.

Thursday, December 5, 2013

JANGAN HIDUP SEPERTI BABI!


Jika hidup hanya sekedar hidup, babi di hutan juga hidup
Jika bekerja hanya sekedar bekerja, kera juga bekerja
 (Prof. Buya Hamka)

Buya Hamka

Sama seperti kata-kata mutiara lain yang ndilalah mengena pada saat saat tertentu, kata-kata ini menohok saya cukup dalam.. Mungkin sejauh ini paling dalam diantara wise words dari para tokoh terkenal lain. Jika dibandingkan dengan penyair terkemuka India, Rabindranath Tagore yang biasanya menggunakan bahasa yang halus dan tidak terlalu tajam untuk menyindir, Buya Hamka to the point tanpa tedeng aling-aling memperbandingkan kita dengan kera dan babi.

Hmm..kita? Sorry, saya, karena yang akan saya ceritakan adalah saya. Jika kita tengok konteks kata mutiara tersebut maka yang akan kita dapat adalah perbandingan hiperbolis antara manusia sebagai makhluk yang menurut Tuhan paling sempurna dengan makhluk yang menurut manusia paling hina. Yang disinggung bukan lagi masalah sepele lagi, karena yang dibicarakan disini adalah HIDUP.

Sekarang mari kita lihat bagian pertama kata Buya Hamka tersebut, Buya Hamka intinya disitu mengatakan kalau hidup sekedar hidup apa bedanya kita dengan babi. Nah seperti apa babi hidup? Gampangnya, apa yang dilakukan babi dalam hidupnya. Menurut embah google dan pengalaman dari tetangga-temen-saya-yang-mempunyai-peternakan-babi, babi hidup hanya makan, minum, tidur, berak, makan, minum, tidur, berak lagi begitu seterusnya hingga mati. Siklus tersebut bervariasi di setiap babi dan pada intinya bermuara pada satu kata: monoton!

babi, di kartun sih :D
Jika melihat hubungan sebab akibat, maka tidak logis apabila seorang Buya Hamka mengatakan sesuatu tanpa mengalami atau melihat fakta. Buya Hamka seperti melihat kecenderungan itu dalam diri kita, manusia. Dan saya sebagai orang yang tidak ada apa-apanya dibanding dengan Buya Hamka, saya melihatnya juga di lingkungan masyarakat kita.

Saya melihatnya justru bukan di hidup orang susah, saya melihatnya di hidup orang menengah, saya melihatnya di hidup orang kantoran, PNS, saya melihatnya di hidup bos-bos berdasi yang duduk di kursi nyamannya.

PNS

Justru ketika orang mulai nyaman dengan apa yang dia kerjakan, pewe terhadap rutinitasnya, orang akan berubah seperti apa yang Buya Hamka katakan, seperti babi. Bedanya babi disumpal makanan, orang disumpal gaji (tetap). Orang cenderung menjadi heartless dan egois, orang jadi lebih sering memakai kata pokoknya, pokoknya yang penting gw gajian, pokoknya yang penting kerjaan kelar, pokoknya asal bos senang, pokoknya, pokoknya, pokoknya hidup?

Sebagai makhluk paling sempurna harusnya kita malu dipersonifikasikan dengan babi, namun pada kenyataannya banyak orang yang secara tidak sadar mengakuinya bahkan yang ironis ada budaya di masyarakat untuk menekan kreativitas, untuk menghalangi orang perkembang, bahasanya mereka beternak babi.

Mengakui bahwa kita seperti babi adalah langkah pertama, sekaligus langkah tersulit untuk memulai sebuah perubahan dalam hidup. Karena dengan memberikan berbagai alasan dan eksepsi, kita hanya akan menjadi babi pintar, biar kata sepintar apapun tetap saja babi.

bersambung selanjutnya: JANGAN HIDUP SEPERTI KERA!