Showing posts with label Humanisme. Show all posts
Showing posts with label Humanisme. Show all posts

Monday, February 3, 2014

Tidak Enak Menjadi Minoritas


Pagi ini saya masuk kerja (lagi) setelah hari Kamis kena K.O. kehujanan dan demam yang membuat kepala seperti dipakaikan helm 10 kilogram. Entah kenapa hari ini, saya masih pusing. Mungkin efek dari perjalanan kereta api 9 jam nonstop sampai jam 12 malam tadi plus sampai stasiun Senen kehujanan dan saya tidak bisa tidur sampai pagi.

Sesampainya saya di kantor saya menaruh oleh-oleh pulang kampung berupa bakpia dan wingko babat di tempat rekan-rekan biasa menaruh oleh-oleh. Beberapa menit kemudian rekan saya membawa oleh-oleh 'benda yang paling saya benci', durian.

Ya, saya sangat benci dengan benda busuk satu itu. Saking bencinya saya tidak pernah tidak pusing ketika mencium baunya. Celakanya hari ini kondisi tubuh saya sedang menurun dan rasanya benar-benar membikin mual, seakan mau muntah.

Itulah tidak enaknya menjadi minoritas. Dalam prinsip demokrasi, suara terbanyak adalah yang berkuasa, ok saya paham. Tapi sayangnya dalam prinsip demokrasi, kebebasan individu juga mendapatkan tempat yang tinggi. Dalam hal ini kebebasan rekan-rekan saya untuk menyantap durian yang berbau itu seharusnya memperhatikan kebebasan saya untuk menghirup udara segar tanpa ada bau sesuatu yang tidak saya sukai. Suka atau tidak suka begitulah prinsip demokrasi. Namun, hal seperti itu sepertinya hanya utopia. Tidak hanya terjadi di lingkungan pekerjaan, namun ketidakbecusan penerapan demokrasi sebenarnya terjadi juga di masyarakat yang lebih luas. Ya, karena masyarakat luas merupakan pengembangan dari prototipe yang lebih sempit.

Ya itu menjadi sebuah ironi dalam perkembangan demokrasi, minoritas tetap minoritas.

Thursday, December 5, 2013

JANGAN HIDUP SEPERTI BABI!


Jika hidup hanya sekedar hidup, babi di hutan juga hidup
Jika bekerja hanya sekedar bekerja, kera juga bekerja
 (Prof. Buya Hamka)

Buya Hamka

Sama seperti kata-kata mutiara lain yang ndilalah mengena pada saat saat tertentu, kata-kata ini menohok saya cukup dalam.. Mungkin sejauh ini paling dalam diantara wise words dari para tokoh terkenal lain. Jika dibandingkan dengan penyair terkemuka India, Rabindranath Tagore yang biasanya menggunakan bahasa yang halus dan tidak terlalu tajam untuk menyindir, Buya Hamka to the point tanpa tedeng aling-aling memperbandingkan kita dengan kera dan babi.

Hmm..kita? Sorry, saya, karena yang akan saya ceritakan adalah saya. Jika kita tengok konteks kata mutiara tersebut maka yang akan kita dapat adalah perbandingan hiperbolis antara manusia sebagai makhluk yang menurut Tuhan paling sempurna dengan makhluk yang menurut manusia paling hina. Yang disinggung bukan lagi masalah sepele lagi, karena yang dibicarakan disini adalah HIDUP.

Sekarang mari kita lihat bagian pertama kata Buya Hamka tersebut, Buya Hamka intinya disitu mengatakan kalau hidup sekedar hidup apa bedanya kita dengan babi. Nah seperti apa babi hidup? Gampangnya, apa yang dilakukan babi dalam hidupnya. Menurut embah google dan pengalaman dari tetangga-temen-saya-yang-mempunyai-peternakan-babi, babi hidup hanya makan, minum, tidur, berak, makan, minum, tidur, berak lagi begitu seterusnya hingga mati. Siklus tersebut bervariasi di setiap babi dan pada intinya bermuara pada satu kata: monoton!

babi, di kartun sih :D
Jika melihat hubungan sebab akibat, maka tidak logis apabila seorang Buya Hamka mengatakan sesuatu tanpa mengalami atau melihat fakta. Buya Hamka seperti melihat kecenderungan itu dalam diri kita, manusia. Dan saya sebagai orang yang tidak ada apa-apanya dibanding dengan Buya Hamka, saya melihatnya juga di lingkungan masyarakat kita.

Saya melihatnya justru bukan di hidup orang susah, saya melihatnya di hidup orang menengah, saya melihatnya di hidup orang kantoran, PNS, saya melihatnya di hidup bos-bos berdasi yang duduk di kursi nyamannya.

PNS

Justru ketika orang mulai nyaman dengan apa yang dia kerjakan, pewe terhadap rutinitasnya, orang akan berubah seperti apa yang Buya Hamka katakan, seperti babi. Bedanya babi disumpal makanan, orang disumpal gaji (tetap). Orang cenderung menjadi heartless dan egois, orang jadi lebih sering memakai kata pokoknya, pokoknya yang penting gw gajian, pokoknya yang penting kerjaan kelar, pokoknya asal bos senang, pokoknya, pokoknya, pokoknya hidup?

Sebagai makhluk paling sempurna harusnya kita malu dipersonifikasikan dengan babi, namun pada kenyataannya banyak orang yang secara tidak sadar mengakuinya bahkan yang ironis ada budaya di masyarakat untuk menekan kreativitas, untuk menghalangi orang perkembang, bahasanya mereka beternak babi.

Mengakui bahwa kita seperti babi adalah langkah pertama, sekaligus langkah tersulit untuk memulai sebuah perubahan dalam hidup. Karena dengan memberikan berbagai alasan dan eksepsi, kita hanya akan menjadi babi pintar, biar kata sepintar apapun tetap saja babi.

bersambung selanjutnya: JANGAN HIDUP SEPERTI KERA!

Monday, September 30, 2013

Dari Antrian Nasi Uduk Ke Antrian Jalan Raya

“Bu, saya diduluin dong.. Suami saya sudah mau berangkat kerja nih..”

Sebuah teriakan dari ibu-ibu berjilbab menyeruak dari barisan belakang antrian nasi uduk. Teriakan itu dibalas oleh ibu-ibu lain yang menggendong bayi dengan mengatakan bahwa dia juga minta didahulukan karena bayinya sudah lapar (entah bayinya atau dia yang lapar, saya tidak yakin anak umur sekitar 6 bulan sudah makan nasi uduk), sementara ibu muda lain yang berwajah oriental sibuk memilih-milih tempe goreng yang baru diangkat dari penggorengan. Uniknya, ibu-ibu tersebut adalah ibu-ibu yang datang 5 menit setelah saya dan bahkan saya yang sekarang berada di antrian terdepan belum dilayani, mereka dengan half-forced minta didahulukan.

Gambar Pinjem dari Mbah Google

Cerita ini bermula ketika saya selesai jogging pagi di sekitaran Mega Glodok Kemayoran (MGK), belakang Jamkrindo, dan ingin mengisi perut yang sudah lumayan lapar di penjual nasi uduk dekat kosan. Syukurlah sedang tidak ramai, pikir saya, saya langsung memesan nasi uduk disambut dengan anggukan pelan ibu penjual nasi uduk yang tengah sibuk menggoreng tempe mendoan. Ibu penjual yang ramah meminta izin menyelesaikan menggoreng tempe dulu karena takut gosong, soalnya di sendirian biasanya ditemani suami atau anaknya, takut gosong katanya.

Beberapa saat kemudian seperti yang sudah saya ceritakan di atas, beberapa ibu-ibu tanpa rasa bersalah melewati giliran saya dan bahkan tanpa minta maaf. Bahkan seorang ibu yang oleh penjualnya dipanggil “Bu Haji” tanpa rasa malu menunjuk tempe yang baru diangkat dari penggorengan (yang oleh ibu penjualnya tadinya diperuntukkan buat saya) dan mengambilnya. Saya hanya menggeleng geleng tiap beberapa orang melewati giliran saya. Justru ibu ibu penjualnya yang merasa tidak enak dan dialah yang meminta maaf kepada saya. Ibu-ibu berjilbab yang tadi minta didahulukan karena suaminya sudah mau berangkat kerja ngeloyor pergi begitu saja. Mungkin dia sudah biasa menyela seperti itu. Mungkin saja.

Gambar Pinjem dari Mbah Google
Karena kejadian disela berkali-kali di atas saya menghabiskan waktu sepuluh menit hanya untuk membeli nasi uduk dan menjadi agak ngaret ke kantor. Seperti biasa untuk mencapai kantor saya di bilangan Lapangan Banteng, saya memacu sepeda motor melewati Jalan Angkasa dan Jalan Gunung Sahari yang biasa kalau jam jam 7-9 biasa macet. Apalagi ditambah adanya palang pintu kereta api yang biasanya agak lama. Kebetulan tadi pagi saya juga kena palang pintu, maksudnya terhalang gitu, dan terpaksa berhenti. Tiba-tiba dari belakang sebuah motor membunyikan klakson meminta saya dan motor di depan minggir. Saya yang setengah enggan agak meminggirkan motor merapat hampir menyenggol mobil di sebelah kanan. Motor itu lalu meliuk-liuk diantara motor motor lain dan kemudian melewati palang mintu, menunggu kereta lewat di dalam area berbahaya yang sebenarnya kita dilarang untuk melintas.

Dua kejadian indisipliner di atas mungkin terlihat sepele dan tidak berarti, namun jangan lupa bahwa hal-hal besar dimulai dengan hal-hal yang kecil baik itu positif maupun negatif. Untuk hal-hal kecil saja sebagian masyarakat kita masih belum bisa disiplin, apalagi nanti kalau dihadapkan dengan hal yang lebih besar. Ironisnya, penyerobot di kejadian nasi uduk adalah seorang ibu ibu. Kenapa saya bilang ironis? Ya, bagaimana dia akan mengajarkan disiplin ke anak-anaknya kalau dia sendiri tidak bisa disiplin? Dengan mengembalikan definisi pendidikan pertama adalah pada keluarga, bagaimana pendidikan akan diterapkan (terutama pendidikan disiplin) jika orang tua, dalam hal ini ibu-ibu malah tidak menghargai yang namanya antri? Bukan suatu yang mengherankan jika ternyata orang yang di kejadian kedua adalah suaminya, atau anaknya? hehehe..

Tinggal di Jakarta selama hampir 7 tahun membuat saya mengerti karakter-karakter orangnya. Dan uniknya (lagi-lagi) ini bukan kejadian pertama saya diserobot dalam antrian, tidak hanya nasi uduk namun hampir di segala bidang. Baik itu dalam pelayanan publik, fasilitas umum, jasa dan lain-lain. Kejadian yang sama persis sering saya alami sewaktu saya masih kuliah di Bintaro. Apakah sudah menjadi budaya hal seperti ini? Kalau mau su’udzon mentang-mentang mereka yang punya tanah, orang sini, lantas bisa bebas berlaku? Sebagai komparasi, saya juga pernah ngekos di Jogja, alhamdulillah selama ngantri beli makan, baik itu nasi uduk maupun di rumah makan jarang ada yang menyerobot, malah terkadang ada yang mempersilahkan terlebih dahulu kalau terburu-buru.

Gambar Pinjem dari Mbah Google
Disiplin dimulai dari sendiri. Mustahil merubah dunia jika diri sendiri tidak disiplin. Saya membayangkan masyarakat kita tertib, antri di jalan raya, disiplin, tidak ada saling klakson, dan yang lain lain. Angan-angan saya mulai mengabur, seiring pengendara motor yang mengklakson saya yang akhirnya menerobos rel padahal sinyal kedatangan kereta masih menyala. Astaghfirulloh apa dia tidak memikirkan nyawanya. Ah, mungkin dia sudah biasa menerobos seperti itu. Mungkin saja.

NB: Cerita ini pernah saya posting di Kompasiana